Politik2 November 2026
David Rosenfeld

David Rosenfeld adalah nama pena dari desk otomatis Fakta & Mitos di Hasbara. Artikel dibuat oleh AI dari sumber-sumber yang dikutip dan diterbitkan tanpa peninjauan manusia.

Fakta

Israel tidak memilih perdana menterinya secara langsung, dan hasil pemilu Knesset pada 27 Oktober 2026 yang belum meyakinkan menghasilkan parlemen yang terbelah, di mana belum ada kandidat yang berhasil membentuk pemerintahan ataupun dinyatakan sebagai perdana menteri.

Mitos

Mitos: Mantan Kepala Staf IDF Gadi Eisenkot resmi dinyatakan sebagai Perdana Menteri Israel yang baru menyusul pemilu Knesset pada 27 Oktober 2026.

Prosedur Parlementer Berdasarkan Undang-Undang Dasar: Pemerintah

Di bawah kerangka konstitusional Israel yang diatur oleh Undang-Undang Dasar: Pemerintah, perdana menteri tidak pernah dipilih langsung oleh rakyat atau diumumkan seketika setelah pemilu. Warga negara Israel memberikan suara untuk daftar partai nasional, bukan kandidat perorangan untuk kepala pemerintahan eksekutif. Sebanyak 120 kursi di Knesset didistribusikan melalui perwakilan proporsional di antara partai-partai yang melampaui ambang batas parlemen. Karena tidak pernah ada satu partai politik pun yang berhasil mengamankan mayoritas mutlak 61 kursi sepanjang sejarah Israel, kekuasaan eksekutif selalu dibentuk melalui koalisi multipartai.

Prosedur hukum untuk memilih perdana menteri baru dimulai setelah Komite Pemilihan Umum Pusat menghitung dan secara resmi mengesahkan hasil pemilu. Menyusul pengesahan ini, Presiden Israel menggelar konsultasi dengan para perwakilan dari setiap faksi yang masuk ke Knesset yang baru terpilih. Berdasarkan pertimbangan anggota parlemen mana yang memiliki peluang terkuat untuk memimpin dukungan parlemen, presiden memberikan mandat resmi berdurasi hingga 28 hari—dengan kemungkinan perpanjangan 14 hari—kepada anggota Knesset yang ditunjuk untuk menegosiasikan koalisi. Hanya ketika usulan kabinet telah memaparkan pedoman kebijakan serta penetapan kementeriannya kepada sidang pleno Knesset dan memenangkan suara mayoritas mutlak dalam mosi percaya, seorang perdana menteri baru dapat resmi dilantik.

Hasil Pemilu Oktober 2026 yang Mengalami Kebuntuan

Pemilu Knesset yang dihelat pada 27 Oktober 2026 menghasilkan akhir yang belum meyakinkan, menyebabkan parlemen menemui jalan buntu dan bukannya menghadirkan pemenang instan. Sebagaimana dilaporkan oleh Fox News, aliansi sayap kanan dan religius Perdana Menteri Benjamin Netanyahu hanya mengantongi 53 kursi—masih jauh di bawah 61 kursi yang dibutuhkan untuk memerintah secara independen—meski partai Likud yang dipimpinnya tetap menjadi faksi tunggal terbesar dengan 26 kursi. Mantan Kepala Staf IDF Gadi Eisenkot memimpin partai beraliran tengah miliknya, Yashar, meraih 21 kursi, menjadikannya ujung tombak blok oposisi dengan total 48 kursi. Lonjakan signifikan dalam partisipasi pemilih Arab menghasilkan 19 kursi bagi Joint List dan Ra'am, menciptakan mayoritas parlemen anti-Netanyahu secara hitungan matematis sebanyak 67 kursi; kendati demikian, jurang ideologis yang tajam menghalangi terbentuknya koalisi yang langsung atau solid.

Jauh dari klaim pernyataan resmi mengenai kepala pemerintahan baru, situasi pascapemilu justru membuka babak perundingan politik yang rumit. Seperti dirincikan oleh CNN, baik Netanyahu maupun Eisenkot sama-sama tidak menguasai 61 kursi secara mandiri. Selama masa kampanye, Eisenkot berikrar tidak akan duduk di kabinet pimpinan Netanyahu, sementara tokoh oposisi berhaluan kanan seperti Naftali Bennett dan Avigdor Liberman tetap memendam keraguan mendalam terkait pembentukan koalisi yang bersandar pada faksi-faksi Arab. Berbagai opsi yang mungkin ditempuh mencakup perundingan alot menuju pemerintahan persatuan nasional, kabinet minoritas oposisi yang ditopang oleh kesepakatan eksternal, atau kebuntuan berkepanjangan yang berujung pada siklus pemilu berikutnya.

Pemerintahan Transisi dan Konsultasi Koalisi

Sebagaimana dilaporkan The New York Times, Presiden Isaac Herzog mulai menjadwalkan konsultasi dengan para pemimpin partai pada awal November 2026 guna menentukan siapa yang akan menerima mandat kepresidenan perdana untuk menghimpun mayoritas pemerintahan. Di sepanjang proses amanat konstitusi ini, Benjamin Netanyahu tetap bertugas sebagai perdana menteri sementara (caretaker). Hukum Israel secara tegas mengatur bahwa pemerintahan yang sedang menjabat tetap memegang wewenang hingga pemerintahan yang baru dibentuk meraih persetujuan Knesset dan mengucap sumpah jabatan. Klaim yang mendeklarasikan Gadi Eisenkot sebagai perdana menteri baru benar-benar keliru dalam merepresentasikan sistem parlementer Israel, serta menggantikan proses legal pembentukan pemerintah yang ketat dengan spekulasi politik yang prematur semata.

Sumber

  1. 1
    Netanyahu falls short of majority as Israel faces three possible paths to a new governmenthttps://www.foxnews.com/world/netanyahu-bloc-falls-short-arab-vote-surges-qatar-election-interference-allegations-emerge
  2. 2
    nytimes.comhttps://www.nytimes.com/2026/11/02/world/middleeast/israel-election-prime-minister.html
  3. 3
    cnn.comhttps://www.cnn.com/2026/10/29/middleeast/israels-election-results-deadlock-vis-intl
  4. 4
    Former IDF chief Gadi Eisenkot emerges as Netanyahu’s leading election challengerhttps://www.foxnews.com/world/former-israeli-army-chief-gadi-eisenkot-emerges-netanyahus-leading-election-challenger